BOROK-BOROK SUFI
OlehSyaikh Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij
Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam. Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.
MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim.
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim.
Membolak-balik, serta merubah pemahaman
Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui
agama-Nya.
Yakni, dengan membersihkan Islam dari
bermacam aqidah dan filsafat yang mengalir dalam benak manusia akibat
pengaruh pola pikir keberhalaan. Maka, diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan kebohongannya.
Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk sufi.
Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.
ILMU LADUNI
Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala tentang nabi Khidir:
Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala tentang nabi Khidir:
“wa ‘allamnaahu min Ladunnaa ‘ilmaan”
“Artinya :…Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”. [Al-Kahfi : 65].
“Artinya :…Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”. [Al-Kahfi : 65].
Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka.
Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) serta
melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam[1]. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa
Ta’ala.
“Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada kalian semua”. [Al-Baqarah : 282].
Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), seorang penganut Syi’ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. [2]
Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. Jalan terpenting itu, diantaranya :
1. Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar’i.
Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang
pentolan sufi, “Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak
ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan
tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan
yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan
menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya”.[3]
Demikian pula yang dikatakan Abu
Sulaiman Ad-Darani, “Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian
untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada
dunia”[.4]
2. Menghancurkan sanad-sanad
hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha’if (lemah), munkar dan maudhu’
(palsu) dengan cara kasyaf.
Sebagaimana dikatakan Abu Yazid
Al-Busthami, “Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami
mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.
Hal itu seperti yang telah disampaikan
para pemimpin kami : “Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku”.
Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : “Telah
mengabarkan kepada kami Fulan”. Padahal, bila ditanya dimana dia (si
Fulan tersebut) ?.
Tentu akan dijawab : “Ia (Fulan, yakni
yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal”.
“(Kemudian) dari Fulan (lagi)”. Padahal, bila ditanyakan dimana dia
(Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : “Ia telah meninggal”.[5]
Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, “Ulama
Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga
hari kiamat. Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak
antara nasab mereka.
Sedang para wali mengambil ilmu dari
Allah (secara langsung -peny). Yakni, dengan cara Ia (Allah)
mengilhamkan kedalam hati para wali”[6].
Dikatakan oleh Asy-Sya’rani, “Berkenaan
dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits,
tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf”.[7].
3. Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan.
Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang
syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku),
maka dikatakannya kepada murid tersebut :”Sembunyikan auratmu”.[8]
Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.
Sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan sebagaimana diungkap diatas :
Pertama.
Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama kaum muslimin.
Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama kaum muslimin.
Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.
Padahal Allah telah menjadikan
masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj yang berbeda-beda. Dan
peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi sebelum beliau diutus
sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi Ibrahim, nabi
Yahya dengan nabi Isa.
Sesungguhnya para nabi tersebut
dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan Muhammad shalallallahu
‘alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia hingga hari kiamat.
Telah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Adalah para nabi diutus untuk
kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia”. [Hadits
Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].
“Artinya : Tidak seorang pun dari umat
ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak
beriman kepadaku, melainkan akan dimasukkan ke neraka” [Hadits Shahih
Riwayat Muslim I/93]
Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Tidaklah engkau Kami utus
kecuali untuk seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan
pemberi peringatan”. [Saba’ : 28]
Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua”. [Al-A’raf : 157]
Dan siapa saja yang ‘alim, baik jin
maupun manusia, diperintahkan untuk mengikuti rasul yang ummi ini. Maka
barangsiapa yang mengaku bahwa dengan kemampuannya dapat keluar dari
minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke
minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka dia sesat dan
menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Seandainya Musa turun, lalu
kalian semua mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah
kalian. Aku adalah bagian kalian, dan kalian adalah bagian dari
umat-umat yang ada”. [Riwayat Baihaqi dalam Syu’abu al-Iman, dan lihat
pula dalam Irwa’al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]
Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa
nabi Khidir masih tetap hidup, selalu berhubungan dengan mereka,
mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah kepadanya, seperti
nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan mengada-ada.
Karena menyelesihi Al-Qur’an secara nyata :
“Artinya : Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi”. [Al-Anbiya’ : 34]
“Artinya : Tidak ada satu jiwapun yang
bernafas pada hari ini yang datang dari zaman seratus tahun sebelumnya,
sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup”. [Hadits Riwayat Ahmad dan
Tirmidzi dari Jabir]
Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.[9]
Kedua.
Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)”. [Al-Baqarah : 282]
Hal itu bukanlah hujjah, karena
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan pemahaman
ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang disyari’atkan dan
diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
“Artinya : Sesungguhnya ilmu itu
(diperoleh) dengan cara belajar”. [Hadits Riwayat Daruquthni dalam
Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu Hurairah dan Abu Darda’.
Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]
Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.
Ketiga.
Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.
Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.
Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. Bahkan sebatas mencari ilmu semata.
Berkata Ibnu Al-Jauzi, “Iblis
menginginkan untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar.
Memang jelas bahwa yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas
mencari ilmu saja. Namun, dalam hal ini para penipu itu telah
menyembunyikan masalah pengamalannya. [10] Dan tidaklah kasyaf yang
mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan belaka.
“Artinya : Maukah Aku khabarkan kepada
kalian tentang kepada siapa setan turun ? (Setan) turun kepada setiap
pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka menghadapkan pendengarannya itu
(kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”.
[Asy-Syu’ara : 221-223]
“Artinya : Tidaklah kamu melihat
bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir
untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh ?
Maka janganlah kamu tergesa-gesa
memintakan siksaan bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya
menghitung (hari siksaan) itu untuk mereka dengan perhitungan yang
teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertaqwa
kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat.
Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga”. [Maryam : 83-86]
Adapun pengakuan mereka, seperti
pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf merupakan bagian dari iman yang
benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya sebagian yang
tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan niat
serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan
dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila
ada perkataan mereka semacam ini : “Telah mengabarkan kepadaku hatiku
dari Rabb-ku” tidak lain adalah perkataan khurafat.
Keempat.
Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu.
Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu.
Seperti, kata Ibnu Arabi, “Sesungguhnya
aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi.
Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627 H, di Mahrusah,
Damsyiq.
Saat itu di tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kitab. Maka sabdanya kepadaku, ‘Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam’. Ajarkan dan sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa’at darinya.
Kemudian aku katakan, Aku dengar dan
taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara kita sebagaimana
yang engkau perintahkan.
Maka, aku pun berusaha merealisasikan
cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk
mengajarkan kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. tanpa mengurangi dan menambahinya”.
Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:
1. Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang memenuhi kitab Fushush Al-Hikam.
Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh
(hal. 70-72), meyakini bahwa Fir’aun itu telah beriman (hal. 21),
membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang
menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal.
188).
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi syari’at.
Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa
setan menampakkan diri dalam bentuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
di hadapan Ibnu Arabi. Padahal mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu
Arabi) telah tertipu dan terperdaya.
Walau ia mengatakan yang demikian itu
dengan niat baik dan prasangka bersih. Tetapi yang demikian itu
mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai nabi.
Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
“Artinya : Barangsiapa yang melihatku
(dalam mimpinya) maka sesungguhnya akulah dia. Karena sesungguhnya setan
tidak bisa menyerupaiku”. [Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dari Abu
Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, sebagiannya Shahih
diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami’ dan ziyadahnya
V/293]
Berdasarkan keterangan diatas, maka kita berkeyakinan bahwa Ibnu Arabi dan para pengikutnya adalah dajjal-dajjal Khurasan. Sedang perkataan-perkataan mereka dusta dan tidak mengandung kebenaran sama sekali.
SYARI’AT DAN HAKIKAT
Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari’at dan hakikat. Syari’at, bila dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.
Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari’at dan hakikat. Syari’at, bila dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.
Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah :
“Artinya : Aku menghafalkan dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kantung ilmu. Adapun salah
satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya, bila ku sebarkan akan
dipotong tenggorokan ini”. [Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Fitan]
Padahal ini sebagai isyarat dari beliau
rahimahullah tentang akan tidak adanya kaitan antara ilmu batin dan ilmu
zhahir. Kalau tidak begitu, pasti beliau akan mencantumkannya dalam
Al-‘Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan masalah
tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fathu Al-Bari I/216.
Oleh karena itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri dari lahir dan batin, berarti dia telah menyangka Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menghianati tugas kerasulannya.
Tapi, inilah kenyataannya. Mereka berkeyakinan, Rasulullah hanya menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang batin beliau beritahukan kepada orang-orang tertentu.[12]
Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas dari yang mereka kaitkan kepada
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah, malaikat Jibril serta
orang-orang shalih dari kalangan yang beriman menyaksikan yang demikian
itu. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan
untuk mu agamamu, dan Aku lengkapkan untukmu semua ni’mat-Ku serta Aku
ridhai bagimu Islam sebagai agama”. [Al-Maidah : 3]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah meminta persaksian dihadapan segenap manusia muslim yang berkumpul
di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari haji akbar.
Kata beliau, “Sesungguhnya, kalian akan
ditanya tentang aku. Maka, apakah yang akan kalian katakan ?” Jawab
mereka : “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Rabb-mu
dan telah menunaikannya. Engkau telah menasehati umatmu dan menunaikan
kewajibanmu”.
Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan menggerak-gerakkannya kehadapan manusia :
“Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah”.
[Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah
tentang hajinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di-tahqiq
ulang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal.
37-41].
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
telah menyatakan secara terang-terangan, dan hal ini sebagai hujjah
nyata guna menampar setiap pendusta dan yang suka berbuat dosa. Kata
beliau :
“Artinya : Sesungguhnya seorang nabi
tidak mengenal main isyarat (dengan mata)”. [Hadits Shahih Riwayat Imam
Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat Shahih Al-Jami’ II/303]
Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat
rahasia. Hal ini agar tidak ada seorangpun yang berburuk sangka yang
menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa dalam agama Allah ada rahasia
yang tidak banyak diketahui manusia.
Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya :
“Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya
bagi seorang nabi mempunyai mata yang khianat”. [Hadits Shahih Riwayat
Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim dari Sa’id. Lihat Shahih Al-Jami’ II/307]
AL-HULUL WA AL-ITTIHAD
Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah.
Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah.
Ketika itulah ia menempati dzat
tersebut, hingga bercampur sifat ketuhanan dengan tabiat kemanusiaan.
Bentuk lahirnya manusia, tetapi hakikat batinnya adalah sifat ketuhanan.
Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya Al-Hallaj, ibnu Al-Faradh, Ibnu Sab’in dan lainnya dari kalangan sufi.
Berikut ini kami paparkan sebagian perkataan mereka : Al-Hallaj berkata : [13]
Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiannya,
Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,
Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,
Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,
Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti
jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.
Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab
yang tergambar dalam seluruh bentuk pada
hamban-Nya, Fulan. [14]
Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,
Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,
Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,
Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti
jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.
Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab
yang tergambar dalam seluruh bentuk pada
hamban-Nya, Fulan. [14]
Dan Ibnu Al-Faradh berkata :[15]
Tidaklah aku shalat kepada selainku,
dan tidaklah shalatku kepada selainku
ketika menunaikan dalam setiap raka’atku.
dan tidaklah shalatku kepada selainku
ketika menunaikan dalam setiap raka’atku.
Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan tatkala Ibnu Al-Faradh berpayah-payah dibalik fatamorgana.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
tatkala menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : “Orang yang mengucapkan
sya’ir tersebut ketika meninggalnya mengucapkan syair sebagai berikut :
Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu,
tidak seperti yang pernah aku jumpai,
maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.
tidak seperti yang pernah aku jumpai,
maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.
Angan-angan yang menancap dalam diriku beberapa lama,
dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi kosongku belaka.
dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi kosongku belaka.
At-Tusturi berkata : [16]
Akulah yang dicintai dan yang mencintai, tidak ada selainnya.
Akulah yang dicintai dan yang mencintai, tidak ada selainnya.
Para syaikh tasawuf tersebut
mencari-cari dalih dengan hadits yang berbicara masalah wali. Padahal,
segala dalih dan alasan itu tak mendukung mereka.
Misalnya sebuah hadits :
“Artinya : Tidak henti-hentinya seorang
hamba mendekatkan diri kepadaku dengan perbuatan-perbuatan yang
disunnahkan hingga Aku mencintainya.
Maka jika Aku mencintainya, Akulah yang
menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, dan
penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, dan tangannya yang dia
julurkan, dan kakinya yang dia langkahkan.
Maka, jika ia meminta kepada-Ku, sungguh
aku akan beri. Dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku
akan melindunginya”. [Hadits Riwayat Bukhari, akan tetapi kami ringkas
sesuai dengan makna pembahasan].
Hadits ini menunjukan dengan sangat
adanya pembedaan dan pemisahan. Dalam hal ini ada ‘Abid (yang beribadah)
dan Ma’bud (yang diibadahi). Sa-il (yang meminta) dan Mas-ul (yang
diminta), ‘A-idz (yang minta perlindungan) dan Mu’idz (yang melindungi).
Sedang, orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa Allah berdiam dalam
dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan keduanya menjadi dua dzat
yang menyatu.
Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi tersebut menerimanya dengan cara membenarkan kebohongan ini ?
Dan bagaimana pula hingga lisan mereka mengulang-ngulangnya ?
Sungguh, Kursi-Nya seluas langit dan bumi, maka bagaimana mungkin jasad manusia dapat menampung-Nya ?.
Adapun hadits berikut :
“Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang beriman lapang bagi-Ku”
“Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang beriman lapang bagi-Ku”
Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut kesepakatan para ulama ilmu hadits.
WIHDAH AL-WUJUD
Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah.
Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah.
Maka, tidaklah segala yang nampak ini
kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah. Maha Suci Allah, Rabb
kita, Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan.
Ibnu Arabi berkata : “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah”.
Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah
orang-orang yang mengatakan :”Akulah Allah, Maha Suci Aku”. Seperti, Abu
Yazid Al-Bustahmi.[17]
Katanya : “Rabb itu haq dan hamba itu
haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba ?
Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan
Rabb, sesungguhnya aku hamba”.
Dikatakan pula : [18] “Suatu saat hamba
menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba
tanpa kedustaan”.
Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika tukang sya’ir mereka, Muhammad Baha’uddin Al-Baithar mengatakan : [19] “Tidaklah anjing dan babi itu melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu melainkan rahib-rahib yang ada dalam gereja-gereja”.
Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi, berkata :
”Perkataan yang demikian itu mengantarkan manusia pada teori hulul wa al-ittihad. Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang Nashrani.
Karena orang-orang Nashrani mengkhususkan menyatunya Alllah hanya
dengan Al-Masih, sedangkan mereka memberlakukan secara umum terhadap
seluruh mahluk.
Termasuk keyakinan mereka pula, bahwa Fir’aun dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman, sangat mengenal Allah secara hakiki.
Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para
penyembah berhala berada diatas kebenaran, dan mereka sesungguhnya
beribadah kepada Allah, tidak kepada lainnya. Keyakinan lainnya, tida
ada perbedaan dalam penghalalan dan pengharaman antara ibu, saudara
perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak ada perbedaan antara air
dengan khamer, zina dengan nikah. Semuanya itu berasal dari sumber yang
satu. Dan termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi mempersempit manusia.
Maha Tinnggi Allah dari apa yang mereka katakan”. [20]
Keyakinan semacam ini merupakan puncak
tertinggi dari kekafiran, yang dengannya hancurlah seluruh agama,
membatalkan seluruh syari’at, dihalalkan seluruh perkara yang
diharamkan, dan disamakannya orang yang beriman dengan orang fasik,
orang bertaqwa dengan orang binasa, muslim dengan mujrim, yang hidup
dengan yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam : 35-37].
“Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam : 35-37].
Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur’an. yaitu, Al-Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah.
Dan telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan
orang yang beriman dan beramal shalih seperti orang-orang yang membuat
kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak menjadikan orang-orang yang
bertaqwa seperti orang-orang kafir”. [Shad : 28].
Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil istimbath kami dan bukan pula ijtihad.
Akan tetapi, semua itu adalah perkataan
mereka yang diucapkan dengan lisannya. Yang syaikh paling senior
diantara mereka selalu mengulang kekafirannya dan menyatakan
kefasikannya.
Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan dan dalil yang kami kukuhkan, maka lihatlah kitab Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani, karangan Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87.
Semoga Allah memaafkan kita.
CAHAYA (NUR) MUHAMMADI
Termasuk dalam madzhab wihdah al-wujud, ialah adanya keyakinan dikalangan orang-orang sufi tentang masalah Aqthab, Autad, Abdal, Aghwats, An-Najba (yakni beberapa istilah status, jabatan atau peringkat dikalangan sufi), bahwa ruh Allah berdiam pada diri mereka sehingga merekalah yang mengatur apa yang ada.
Termasuk dalam madzhab wihdah al-wujud, ialah adanya keyakinan dikalangan orang-orang sufi tentang masalah Aqthab, Autad, Abdal, Aghwats, An-Najba (yakni beberapa istilah status, jabatan atau peringkat dikalangan sufi), bahwa ruh Allah berdiam pada diri mereka sehingga merekalah yang mengatur apa yang ada.
Mereka menduduki kedudukan Allah dalam mencipta dan mengatur. Yang demikianpun termasuk keyakinan Syi’ah terhadap para imamnya.
Seperti dikatakan Khumeini dalam
kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal.52 : “Sesungguhnya imam mempunyai
kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, dan kekuasaan untuk
mencipta serta tunduk di bawah kekuasaannya seluruh unsur dari semesta
ini. Dan termasuk madzhab kami yang sangat penting pula, bahwa para imam
kita mempunyai kedudukan yang tidak dapat diraih oleh para malaikat
terdekatpun, dan tidak pula oleh nabi yang didekatkan. Dan berdasarkan
riwayat-riwayat yang ada pada kita, dengan hadits-haditsnya, bahwa Rasul
teragung Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam, mereka semua,
sebelum adanya alam semesta ini berupa cahaya yang dijadikan Allah
mengelilingi Ars-Nya. [21]
Sesungguhnya orang-orang sufi, dimana
beribu-ribu kaum muslimin dari segala penjuru dirangkul mereka, lalai
ketika mengangkat orang-orang tersebut (para imamnya) ke derajat
ketuhanan atau yang mendekati hal itu.
Yaitu menjadikan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkedudukan diantara mereka dalam mengatur semesta,
baik masalah penciptaan dan pengaturan, mendatangkan manfaat dan
memberikan madharat, qadha dan qadar ….
Maka, mulailah mereka mengada-ngadakan
perkataan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui
teori Al-Haqiqah Al-Muhammadiyah yang mengeluarkan Rasulullah dari alam
manusia dan menjadikannya cahaya (nur). Dari cahaya Muhammad itulah seluruh mahluk diciptakan.
“Artinya : … Sungguh besar perkataan yang keluar dari mulut mereka. Tiadalah yang mereka katakan itu kecuali dusta”. [Al-Kahfi : 5]
Berikut ini sebagian dari perkataan mereka :
1. Muhammad Adalah Asal Semesta.
“Sesungguhnnya akal yang pertama adalah dinasabkan kepada Muhamad. Karenanya Allah menciptakan Jibril di waktu terdahulu. Maka Muhammad adalah bapak bagi Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta”.[22]
“Sesungguhnnya akal yang pertama adalah dinasabkan kepada Muhamad. Karenanya Allah menciptakan Jibril di waktu terdahulu. Maka Muhammad adalah bapak bagi Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta”.[22]
2. Muhammad Di Atas ‘Arsy.
“Mahluk yang pertama adalah debu, dan mahluk yang pertama yang berwujud secara hakiki adalah Muhammad yang disifatkan istiwa’ di atas ‘Arsy Ar-Rahmani, yaitu ‘Arsy ilahi. [23]
“Mahluk yang pertama adalah debu, dan mahluk yang pertama yang berwujud secara hakiki adalah Muhammad yang disifatkan istiwa’ di atas ‘Arsy Ar-Rahmani, yaitu ‘Arsy ilahi. [23]
3. Cahaya Muhammad (Nur Muhammadi) Adalah Cahaya Allah.
4. Muhammad Adalah Penjaga Atas Semesta.
5. Semesta Diciptakan Karena Muhammad.
Ibnu Nabatah Al-Mishri berkata :
Kalau bukan karenanya,
tidak adalah bumi dan tidak pula ufuk.
Tidak pula waktu, tidak pula mahluk,
tidak pula gunung.
Kalau bukan karenanya,
tidak adalah bumi dan tidak pula ufuk.
Tidak pula waktu, tidak pula mahluk,
tidak pula gunung.
6. Muhammad Mengetahui Yang Ghaib.
Berikut ini dalil-dalil mereka yang mereka sembunyikan di balik punggung-punggunya :
Hadits pertama.
“Artinya : Pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai Jabir” [Hadits Palsu]
“Artinya : Pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai Jabir” [Hadits Palsu]
Hadits kedua.
“Artinya : Aku sudah menjadi nabi sedangkan Adam masih berwujud antara air dan tanah”. [Hadits Palsu. Lihat Syarah Jami’ash-Shagir III/91 dan Asna Al-Mathalib hal. 195]
“Artinya : Aku sudah menjadi nabi sedangkan Adam masih berwujud antara air dan tanah”. [Hadits Palsu. Lihat Syarah Jami’ash-Shagir III/91 dan Asna Al-Mathalib hal. 195]
Ini adalah perkataan yang sangat lemah
dan matan-nya mungkar. Bukankah air adalah bagian dari tanah ? Adapun
hadits shahih berlafadz : “Artinya : Aku sudah menjadi Nabi, sedangkan
Adam adalah keadaan antara ruh dan jasad”, tetapi ini pada ilmu Allah
yang azali.
Hadits ketiga.
“Artinya : Kalau tidak karena engkau, maka bintang-bintang itu tidak diciptakan”. [Shan’ani berkata bahwa hadits ini Palsu dan disepakati Imam Syaukani dalam kitab Fawaid Al-Majmu’ah hl. 116]
“Artinya : Kalau tidak karena engkau, maka bintang-bintang itu tidak diciptakan”. [Shan’ani berkata bahwa hadits ini Palsu dan disepakati Imam Syaukani dalam kitab Fawaid Al-Majmu’ah hl. 116]
Padahal sesungguhnya Allah telah menutup
berbagai jalan menuju perbuatan yang melebih-lebihkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Katakanlah, sesungguhnya aku
ini adalah manusia seperti kamu semua. Hanyasanya diwahyukan kepadaku
(wahyu). Sesungguhnya sesembahanmu adalah sesembahan yang Esa. Maka
barangsiapa yang mengharapkan bertemu dengan Rabbnya, hendaklah ia
beramal dengan amalan yang shalih dan tidak menyekutukan sesuatu pun
dengan-Nya”. [Al-kahfi : 110]
Dan berfirman Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah, Maha Suci Rabbku. Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul ?”. [Al-Isra : 93]
Dan berfirman Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah, tidaklah aku
mengatakan kepada kalian semua bahwa aku mempunyai perbendahaaran Allah,
tidak pula aku mengetahui yang ghaib, tidak juga aku katakan bahwasanya
aku ini malaikat. Tidaklah aku mengikuti kecuali apa yang diwahyukan
kepadaku. Katakanlah, apakah sama orang yang melihat dengan orang yang
buta ? Apakah kalian semua tidak berpikir ?”. [Al-An’am : 50]
Telah bersabda pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Janganlah kalian semua
melebih-lebihkan aku seperti orang-orang Nashrani melebih-lebihkan Isa
anak Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba, maka katakanlah hamba Allah
dan utusan-Nya”. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dan telah bersabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Sesungguhnya aku ini adalah manusia yang dapat marah pula”. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dan riwayat lainnya yang sangat banyak.
Inilah sifat-sifat kemanusiaan yang di sandang Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sejak lahirnya hingga bertemu dengan Rabbnya. Beliaulah yang
mengajak manusia untuk mencontohnya dan menempuh jejak-jejaknya.
Kalau bukan dari alam kita, tidaklah
kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dan menjalani sunah-sunahnya.
Siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah, sedangkan Dia telah
menyetujui hakikat ini melalui lafadz-lafadz Qur’ani yang pasti dan
terinci :
“Artinya : Mereka berkata, kenapa tidak
diturunkan kepada kita malaikat ? kalau diturunkan kepada mereka
malaikat, maka pasti telah diselesaikan perkaranya (dengan dibinasakan
mereka semua) kemudian mereka tidak diberi tangguh. Dan kalau seandainya
Kami turunkan malaikat, pasti akan Kami jadikan dia seorang manusia,
Kami-pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana mereka kini ragu”.
[Al-An’am : 8-9]
Dan ketahuilah, semoga Allah menambahkan
ilmu kepadamu, semesta ini adalah mahluk yang diciptakan dengan tujuan
tertentu. Yaitu beribadah kepada Allah. Seperti dinyatakan dalam
firman-Nya.
“Artinya : Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. [Adz-Dzariyat : 56]
PENDIDIKAN SUFI
Supaya ajaran tasawuf mencapai tujuannya, mereka kenakan pada tokoh-tokohnya sifat bebas dari dosa (‘ishmah). Selain itu, menuntut kepada muridnya agar bersikap seperti mayit di tangan yang memandikannya. Maka janganlah engkau melampauinya dengan mengambil ilmu sufi dari guru lain, karena seorang murid yang menimba ilmu dari dua guru ibarat seorang wanita di tangan dua lelaki. [24]
Supaya ajaran tasawuf mencapai tujuannya, mereka kenakan pada tokoh-tokohnya sifat bebas dari dosa (‘ishmah). Selain itu, menuntut kepada muridnya agar bersikap seperti mayit di tangan yang memandikannya. Maka janganlah engkau melampauinya dengan mengambil ilmu sufi dari guru lain, karena seorang murid yang menimba ilmu dari dua guru ibarat seorang wanita di tangan dua lelaki. [24]
Ibnu Arabi berkata : “Sesungguhnya
termasuk syarat imam batin, hendaklah ia ma’shum (bebas dari dosa)” [25]
Katanya lebih lanjut : “Dan engkau, wahai para murid yang tertipu dan
tersesat, bantulah apa yang diinginkan terhadap engkau. Dan bersangka
baiklah, jangan membantah. Bahkan yakinilah. Dan manusia dalam masalah
ini mempunyai perkataan yang banyak. Tapi terserah dirilah, niscaya
engkau akan selamat. Dan Allah lebih mengetahui perkataan para walinya.
[26]
Kami tidak mengetahui kenapa banyak
ulama kaum muslimin berdiam diri terhadap kekufuran dan keingkaran yang
bersembunyi dalam pakaian Islam yang bertujuan menipu, menyesatkan serta
mengajak kaum muslimin untuk meyakininya serta menegakan agama mereka
di atas asasnya ? Sesungguhnya termasuk suatu kebaikan jihad di sisi
Allah untuk menghapuskan fitnah ini dari kalangan muslimin, karena
sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Kenapa kaum muslimin tidak
terang-terangan memerangi mereka secara keseluruhan demi tumbangnya
kepalsuan-kepalsuan yang telah memburamkan keindahan Islam ?.
Bahkan kenyataannya banyak kaum muslimin
yang tersembelih kesesatan dan kekufuran ini. Dan tidaklah
menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian ini kecuali usaha para
ulama Islam untuk menyingkap kebatilan-kebatilan tadi dengan berbagai
bahasa dan dengan berbagai kedudukan. Maka wahai Rabbku, bangkitkanlah
orang-orang yang memperbaharui agama-Mu ini, karena sesungguhnya kaum
sufi telah kembali bangkit dengan wajah baru pula.
[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha’u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 81-97]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi
17//Tahun IX/1416H/1996M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,
Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
0271-761016]
_______
Footnote.
[1]. Ihya ‘Ulummuddin, Al-Ghazali, I/19-20 dan III/26, cet. Istiqomah, Qahirah.
[2]. Minhaj As-Sunnah, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hal. 226
[3]. Quwat Al-Qulub, III/35
[4]. Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37.
[5]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365.
[6]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4.
[7]. Al-Mizan, I/28.
[8]. Tablis Iblis, hal. 370.
[9]. Al-Manar Al-Munif, Ibnu Qayim Al-Jauziyah.
[10]. Shaid Al-Khaathir, Ibnu Jauzi, I/144-146.
[11]. Syarah Al-Ushul Al-Isyrin, hal 27.
[12]. Ihya’Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19
[13]. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139
[14]. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.
[15]. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248
[16]. Ma’arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin ‘Ajibah, hal.139.
[17]. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.
[18]. Fushush Al-Hikam, hal.90
[19]. Shufiyat, hal.27
[20]. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79
[21]. Al-Hukumat Al-Islamiyah, Khumeini, hal. 52
[22]. Al-Insan Al-Kamil lil Jalil, hal.4
[23]. Futuhat Al-Makkiyah, I/152
[24]. Ihya’ Ulumuddin, I/50-51 dan III/75-76
[25]. Futuhat Al-Makkiyah, III/183
[26]. Muqaddimah AL-Futuhat, I/5
Sumber: https://almanhaj.or.id/318-borok-borok-sufi.html_______
Footnote.
[1]. Ihya ‘Ulummuddin, Al-Ghazali, I/19-20 dan III/26, cet. Istiqomah, Qahirah.
[2]. Minhaj As-Sunnah, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hal. 226
[3]. Quwat Al-Qulub, III/35
[4]. Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37.
[5]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365.
[6]. Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4.
[7]. Al-Mizan, I/28.
[8]. Tablis Iblis, hal. 370.
[9]. Al-Manar Al-Munif, Ibnu Qayim Al-Jauziyah.
[10]. Shaid Al-Khaathir, Ibnu Jauzi, I/144-146.
[11]. Syarah Al-Ushul Al-Isyrin, hal 27.
[12]. Ihya’Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19
[13]. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139
[14]. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.
[15]. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248
[16]. Ma’arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin ‘Ajibah, hal.139.
[17]. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.
[18]. Fushush Al-Hikam, hal.90
[19]. Shufiyat, hal.27
[20]. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79
[21]. Al-Hukumat Al-Islamiyah, Khumeini, hal. 52
[22]. Al-Insan Al-Kamil lil Jalil, hal.4
[23]. Futuhat Al-Makkiyah, I/152
[24]. Ihya’ Ulumuddin, I/50-51 dan III/75-76
[25]. Futuhat Al-Makkiyah, III/183
[26]. Muqaddimah AL-Futuhat, I/5
Komentar
Posting Komentar